Panggung adalah Kertas Putih
10 Agustus 2009
(Sebuah penuturan dari sang sutradara Agung Wibowo)
Memasuki ruang mereka (Kaum Tuna Rungu), Sanggar Dunia Sunyi adalah seperti memasuki sebuah rumah kosong. Mereka orang-orang yang tidak mendengar bahkan tidak mengerti pidato-pidato politik para politikus dikala musim kampanye, mereka orang yang tidak mengerti kenapa harus ada bom diledakkan di sebuah hotel internasional. Mereka tidak pernah mengerti apa yang sedang ditayangkan gambar-gambar di televisi kecuali film-fim kartun, liga sepakbola atau balap motor.
Mereka adalah orang-orang yang sangat minim akan “kosa kata”, hanya mengenal ”kata dasar” dan tidak mengenal kata dengan ”imbuhan” dan ”akhiran”. Jadi jangan harap mereka dengan mudah bisa membaca Koran. Karena mereka pun memahami struktur kata atau kalimat dengan struktur terbalik, seperti kata “sabun mandi” menjadi “mandi sabun”.
Memahami mereka, aku seperti menghadapi orang-orang innocent. Seperti menghadapi anakku yang berumur tiga tahun yang selalu menanyakan arti dan maksud sebuah kosa kata baru yang ia temui. Sampai saat aku tulis catatan ini, aku belum berhasil menjelaskan apa itu kata “seni” dan “teater” secara definitive kepada mereka. Teater yang mereka pahami selama ini adalah sebatas Pantomime. Menurutku sesuatu yang lebih penting adalah bagaimana membawa mereka pada proses pemahaman, bahwa teater adalah sesuatu untuk “dilakoni” dari aktivitas sekecil apapun. Yang akan membuka ruang-ruang imaginasi mereka, sehingga akan memberi kontribusi akan sebuah harapan di masa depan yang lebih baik.
“Membuka Jendela di Pagi Hari” adalah sebuah proses aktivitas innocent mereka, bagaimana membaca “jendela” dan “pagi” sebagai sebuah tanda untuk membuka setiap peristiwa yang mereka pahami dan hadapi. Disini panggung bias saja bagi mereka adalah “kertas putih” yang boleh dia gambari menjadi apa saja. Dengan sebuah selimut dan sepatu, dua benda yang akan membawa mereka untuk memasuki petualangan-petualngan imaginasi mereka.
Deaf Performance Art “Membuka Jendela di Pagi Hari”
23 Juli 2009
Latar Belakangnya…
Seni merupakan salah satu hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Seni adalah bagian dari kehidupan manusia. bahkan ketika seorang manusia mati pun seni masih mengiringi kepergian mereka. Dan seni adalah milik setiap individu.
Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Setiap manusia yang diciptakan oleh Yang Maha Kuasa pasti memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri. Namun di balik itu semua seni tetap masuk di dalam diri mereka. Tak terkecuali dengan kaum difabel (different abillity). Meskipun mempunyai kekurangan dalam hal fisik, rasa mereka akan kebutuhan seni masih bisa terlihat dan dirasakan. Kebutuhan mereka akan seni bukan hanya sebagai penikmat, namun mereka juga mempunyai hasrat untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam menyajikan sebuah kesenian.
Maksudnya dan tujuannya…
1. Sebagai proses aktualisasi diri kami, kaum Tuna Rungu di bidang seni, sekaligus memberikan spiriit bagi para difabel (different abillity) untuk berani berekspresi dan berkontribusi dalam strategi budaya.
2. Membangun wacana kepada publik, tentang keberadaan dan pendekatan proses seni teater dan seni pada umumnya bagi kaum tuna rungu.
3. Membuka jejaring dan silaturahmi dengan masyarakat seni
Dasar Pemikirannya ……..
Kami kaum Tunarungu yang tergabung dalam Sanggar Dunia Sunyi, mempunyai keinginan untuk tidak hanya menikmati seni namun juga mengekspresikannya. Untuk itu kami berproses, mencari cara-cara agar kami dapat mengkomunikasikan ekspresi estetika kami, dari awal ketidak sempurnaan kami, yang secara fisik tidak bisa mendengar apa-apa. Sampai saat ini kami masih memfokuskan diri berproses dalam seni pertunjukkan teater. Untuk mencapai menggapai hasrat tersebut kami telah melakukan proses latihan selama kurang lebih 5 (lima) bulan. Dan pada bulan ke-3 yang lalu kami telah melakukan pentas kecil/presentasi karya dengan judul Membuka Jendela Di Pagi Hari.
Setelah pentas tersebut kami terus berproses untuk lebih dalam dan mempertajam karya tersebut. Hal ini kami lakukan untuk mewujudkan keinginan kami untuk melakukan pentas yang lebih besar, dengan penonton yang terdiri dari berbagai kalangan juga. Dengan harapan bisa membuka sebuah wacana baru bahwa kami kaum difabel juga mampu mengaktualisasikan diri seperti dengan mereka yang “normal”, serta membuktikan bahwa seni adalah bagian dari manusia ciptaan Tuhan, tak terkecuali bagi kami kaum Tunarungu.
Sinopsisnya…….
Membuka Jendela Di Pagi Hari adalah sebuah dunia antara, frame yang akan memposisikan seseorang sebagai subyek “penyaksi” dari suatu peristiwa. Setiap waktu, dari jendela seseorang melewati dan menyaksikan peristiwa-peristiwa yang terjadi dari dunia dalam rumah dan dunia luar rumah. Pagi hari adalah dunia antara, seseorang telah melewati peristiwa malam hari dan akan memasuki peristiwa siang hari.
Membuka Jendela Di Pagi Hari adalah sebuah peristiwa, untuk memasuki dan awal setiap kemungkinan-kemungkinan. Disini seseorang bisa saja merasakan kebahagiaan, sesuatu yang menyedihkan, menakutkan, atau segala kemungkinan peristiwa dari setiap rutinitas dan aktifitas hidup sehari-hari.
Setiap manusia memiliki kecenderungan untuk menengok kembali masa lalu sebagai bahan pertimbangan untuk melangkah ke masa depan. Sebuah bahan pertimbangan yang terkadang malah menimbulkan keraguan akibat kurang jelasnya memori manusia dalam melakukan rekonstruksi ulang terhadap semua masa lalunya.
Hari H-nya…
Pentas Teater di Solo akan dipentaskan hanya satu kali. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal : Selasa, 11 Agustus 2009
Tempat : Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah
Jl. Ir. Sutami no. 57 Surakarta
Pukul : 19.00 – selesai.
Sasarannya….
1. Komunitas Tunarungu
2. Kaum Difabel
3. Pemerhati seni
4. Wartawan
5. Masyarakat Umum
Para Pemainnya…
Ide brilian yang sudah tercurah dalam naskah tentunya mesti bisa diekspresikan semaksimal mungkin oleh para pemainnya supaya tidak mubazir. Komunitas tuna rungu wicara dari Gerkatin dikumpulkan dan dilatih dengan disiplin dan keseriusan tingkat tinggi, dan tentunya kadangkala diwarnai canda tawa yang sangat menunjang keakraban para pemain yang sebagian besar malah tidak saling mengenal sebelumnya.
Untuk mencapai hasil yang maksimal, tidak hanya sekedar menyajikan pentas teater unik karena seringkali disalahtafsirkan gerakan tuna rungu sebagai bentuk gerakan pantomim, ini adalah bentuk teater murni dari penghayatan peran dalam diri pemain. Para pemain yang bukan pemain teater yang berkomitmen untuk disiplin menjalani latihan berkala dilatih dengan penuh penghayatan oleh tangan-tangan professional.
Apa itu perlu? Ya jelas, karena memang mereka pada dasarnya adalah amatiran yang sebelumnya tidak punya dasar jadi pemain drama teater. Kalaupun pernah main drama paling hanya di tingkat sekolahan atau cuma ngisi acara seremonial saja. Jadilah mereka digembleng mulai dari latihan dasar gerakan sampai latihan olah fisik seperti push-up, lari-lari, sampai ada yang jatuh bangun, cape sih tapi asyik dan seru! Tempatnya tidak hanya di studio saja bahkan dilatih di tempat nun jauh seperti di Ngargoyoso Karangpandan nan sejuk dan dingin untuk beradaptasi dengan lingkungan paginya.
Mereka adalah:
1. Dodi Iswanto (Dodik)
2. Agus Jarwanto
3. Samuel Dian Pramono
4. Oktaviani Wulansari (Opik)
5. Rita Apriyani
6. Kristian Hadi Purwanto
Pementasan ini tentunya tidak lepas dari arahan Art Directornya, untuk ini kami mempunyai teman yang secara sukarela menyumbangkan pikiran dan tenaganya untuk membantu kami. Mereka ini bergelut dalam dunia seni. Mereka adalah Agung Wibowo seorang seniman yang mumpuni.
Panitianya…
Teater ini tentunya tidak bisa dipentaskan tanpa adanya dukungan dari orang-orang belakang layar yang biasa disebut tim produksi. Dibawah ini adalah nama tim produksi penyelenggara pentas teater.
Kami membuka kesempatan bagi yang tergerak untuk menyumbang tenaga membantu tim produksi/panitia kami.
TIM PRODUKSI
Penanggung jawab produksi : Sapto Nugroho
Pimpinan Produksi : Muh. Isnaeni Nur Hidayat
Anggota :
1. Jayeng Pranoto, SP
2. Hendro Suyanto
3. M. Ismail
Dokumentasi : Tunggal Aji (mahasiswa ISI Solo)
TIM ARTISTIK
Sutradara : Agung Wibowo
Ass. Sutradara : Anton Bandrex
Uluran Tangan…
Dari keutuhan anggaran sebesar Rp. 5.600.000,-. Kami masih kekurangan dana sebesar Rp. 3.700.000. Demi bisa merealisasikan pertunjukkan “Membuka Jendela di Pagi Hari” dengan dukungan fasilitas memadai untuk memperoleh hasil semaksimal mungkin. Kami sangat mengharapkan dan menghargai dukungan dan uluran tangan Bapak/Ibu/ Saudara/Saudari yang tergerak untuk membantu dalam bentuk apapun. Dana ini kami apresiasikan untuk mengembangkan kemampuan atau mengaktualisasikan diri komunitas tuna rungu agar terbentuk insan yang bermanfaat bagi masyarakat. Bukan sebagai rasa belas kasihan.
1. DONATUR
Donatur adalah lembaga/perusahaan/perseorangan yang menyumbang dana bebas. Dana ini kami pergunakan untuk kegiatan operasional. Dan apabila ada sisa, kami akan pergunakan untuk pengembangan kegiatan Sanggar Dunia Sunyi selanjutnya. Untuk bagi pembaca situs ini bisa mengirimkan donasinya melalui transfer ke rekening kami.
Berikut rekening kami:
Atas nama : Jayeng Pranoto
Bank : Bank BRI Cabang Solo
No. Rekening : 0097-01-001446-53-5
Berita : Dukungan untuk Pementasan Teater ”Membuka Jendela di Pagi Hari”
Hubungi kami…
Kami sangat mengharapkan dan menghargai kritik dan saran membangun untuk kesuksesan pementasan Teater ini. Untuk keterangan yang lebih detail mengenai Pentas ini, Bapak/Ibu/Saudara/Saudari dapat menghubungi Sekretariat kami di bawah ini:
Sanggar Dunia Sunyi
Jl. Apel III no. 27 Jajar
(Utara Samsat ke Timur 150m)
Solo
Telp: 0271 727092
email : gerkatinsolo@yahoo.com
Pemesanan Undangan :
HTM : Rp. 10.000,- (sepuluh ribu rupiah)
Contact Persons :
• Anton Bandrex HP No. : 0856 253 7161 (call)
• Jayeng Pranoto HP No. : 0856 250 4341 (sms only)
• Mohammad Isnaeni HP No. : 0856 4702 5552 (sms only)
• Hendro Suyanto HP No. : 0878 5803 5319 (hanya sms)
Teriring salam dan doa agar Pentas Teater Tuna Rungu dapat disukseskan penyelenggaraannya dan membawa berkat dan rahmat bagi kita semua.
Amin.
Picture “Membuka Jendela di Pagi Hari”
23 Juli 2009
Photo-photo menjelang persiapan Pentas Teater di Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta
“Membuka Jendela di Pagi Hari”











